Pahlawan tanpa tanda jasa, itu sebutan mereka.
Ya, guru...
Dari TK, SD, SMP, SMA, hingga kuliah...kita selalu bertemu dengan mereka.
Selama bersekolah, aku mengenal banyak guru.
Dari yang baik, sabar, galak, sampai yang nyebelin...lengkap.
Dan dari sekian banyak guru yang pernah mengajarku, ada beberapa guru yang sosoknya masih terkenang jelas di ingatanku.
Ada kenangan lucu, menyenangkan, bahkan menyebalkan.
Berikut guru-guruku dengan karakter dan cerita masing-masing...
1. Bu Lies (guru TK)
Bu Lies sosok guru yang sangat sabar.
Memang guru yang mengajar di Taman Kanak-kanak harus bisa sabar menghadapi murid-muridnya yang masih kecil-kecil dan bandel-bandel.
Bu Lies itu sangat baik hati.
Suatu ketika saat sekolah usai, aku menunggu jemputan di gerbang sekolah.
Ibu dan ayah bekerja, jadi aku berangkat dan pulang sekolah naik becak langganan.
Tukang becak langgananku bernama Pak Hadi (sekarang sudah meninggal dunia).
Sudah setengah jam aku menunggu Pak Hadi menjemput dengan becak tuanya, tapi sosoknya tak kunjung nampak.
Sekolahan sudah mulai sepi.
Semua teman-temanku sudah dijemput.
Tinggal aku sendiri duduk di atas batu besar di depan gerbang sekolah.
Aku bingung, sedih, dan takut.
Aku mulai menangis.
Cengeng ^-^
Lalu datanglah Bu Lies mendekatiku.
Saat itu sosok Bu Lies bagaikan malaikat penolong buatku :D
Bu Lies mengajakku pulang bersama.
Bu Lies mengantarkan pulang dengan sepeda, aku dibonceng di belakang.
Kalau tidak ada Bu Lies, mungkin aku sudah diculik waktu itu :| :D
2. Pak Wi (guru Olahraga SD)
Dulu di SD ku, murid kelas 3 harus mulai mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Pramuka setiap hari Jumat.
Kecuali aku dan teman sekelasku, Iis.
Kenapa?
Kami berdua dibebaskan oleh pihak sekolah untuk tidak mengikuti Pramuka karena kami ditunjuk sebagai wakil sekolahan untuk mengikuti Porseni pada cabang Senam Lantai x_x
Pak Wi adalah guru olahraga yang menunjuk kami berdua.
Setiap Jumat sore, di saat teman-teman yang lain asyik dengan kegiatan Pramuka, aku dan Iis berlatih senam lantai di ruang olahraga bersama Pak Wi.
Saat istirahat Pramuka, teman-teman mendatangi tempat latihan kami dan menonton.
Duuh, bayangkan badanku ditekuk-tekuk, digulung-gulung, dilempar-lempar..dan ditonton banyak orang!
Rasanya seperti pemain debus yang sedang beratraksi ditonton orang-orang -____-"
Tapi aku senang.
Aku suka senam lantai.
Pak Wi melatih kami berdua dengan penuh semangat.
Hingga akhirnya aku dan Iis mendapatkan juara dalam Porseni.
Iis juara 2 dan aku juara 3..not bad ^-^
Sampai saat ini aku masih bisa melakukan beberapa gerakan dasar senam lantai.
Hand stand, roll depan, roll belakang, meroda, kayang :D
Dari Pak Wi, aku belajar untuk bekerja keras dan disiplin.
3. Bu Agnes (guru Bahasa Indonesia SD)
Bu Agnes adalah guru baru saat aku duduk di kelas 4.
Berparas cantik, mungil, ramah, dan lemah lembut.
Guru tercantik di sekolahku.
Dan guru paling wangi! :D
Setelah Bu Agnes mengajar, pasti ruangan menjadi harum.
Bu Agnes lah yang mengajarkanku untuk menulis rapi.
Tulisan tanganku memang kacauu =))
Aku tidak suka menulis dengan huruf balok.
Aku lebih suka menulis dengan huruf latin.
Menurutku itu lebih mudah dan lebih indah.
Tapi waktu SD dulu kami harus menulis dengan huruf balok.
Huuft!
Aku masih ingat, suatu hari saat pembagian nilai ulangan harian Bahasa Indonesia.
Bu Agnes memanggil nama murid-murid satu per satu dan menyerahkan hasil ulangan.
Tibalah saatnya namaku dipanggil.
Bu Agnes menyerahkan kertas ulanganku sambil tersenyum dan berkata,
"Ita nilainya bagus..tertinggi di kelas..98...tapiii...lain kali tulisannya dirapikan ya. Ingat sebulan lagi kamu mewakili sekolahan untuk mengikuti Lomba Siswa Teladan. Maka perbaiki tulisanmu ya."
Jleb!
Dalem banget! Kena! Maluuuuu!!
Oiya beberapa waktu yang lalu aku bertemu Bu Agnes, setelah 15 tahun tidak berjumpa.
Kami berjumpa di kantor kecamatan.
Saat itu aku sedang mengurus perpanjangan KTP.
Aku menyapa Bu Agnes.
Bu Agnes terdiam sejenak, mengingat-ingat, dan ternyata aku masih diingat!
"Ini Ita ya?"
Kami bersalaman, berpelukan, dan mengobrol sejenak.
Tidak ada yang berubah dari Bu Agnes.
Masih cantik, awet muda, dan ceria seperti dulu.
Begitu juga aku, tidak ada yang berubah dariku....
Hmmmm..maksudku....tulisanku masih kacau seperti dulu =)) #-o
4. Pak Lis (guru IPA SD)
Aku dan kakakku Rani bersekolah di SD yang sama.
Kami selisih 4 tahun.
Saat aku masuk kelas 1, kakak duduk di kelas 5.
Para guru tau bahwa kami bersaudara.
Bukan karena kami mirip, tapi justru karena kami sangat berbeda.
Terutama dalam hal mata pelajaran.
Aku suka pelajaran IPA, kakak paling benci IPA.
Aku selalu mengacungkan jari untuk menjawab soal Matematika dari guru, sedangkan kakakku paling sering dimarahi guru Matematika karena tidak bisa menjawab pertanyaan.
Aku paling depan untuk adu lari pada pelajaran Olahraga, sedangkan kakakku paling akhir sampai di garis finish.
Aku sangat bersemangat kalau ada pelajaran Seni Rupa, sedangkan kakak lebih suka membiarkan buku gambarnya kosong.
Tulisanku jelek dan tidak rapi, tulisan kakak sangat rapi dan bagus.
Saat mengetahui kami kakak beradik, banyak guru yang mengernyitkan dahi.
Ada satu guru yang benar-benar memperhatikan kami berdua sebagai kakak beradik, dialah Pak Lis guru IPA.
Pak Lis adalah guru paling cerdas, interaktif, dan lucu.
Pak Lis sering menanyakan tentangku kepada kakak.
Dan sebaliknya, Pak Lis juga sering menanyakan tentang kakak kepadaku.
Suatu ketika saat istirahat, aku berpapasan dengan Pak Lis.
Pak Lis memanggil,
"Ita coba kesini...coba perhatikan ini."
Pak Lis mengambil pulpen yang ada di saku bajunya.
Lalu menempelkannya melintang horisontal di bawah bibir bagian bawah (di atas dagu).
Lalu ditariknya bibir bawahnya hingga menitupi pulpen.
Lalu digulungnya pulpen itu, sehingga bibir bawah ikut tergulung.
Kami berdua tertawa.
Lalu beliau menjelaskan,
"Tau tidak, itu adalah kebiasaan kakakmu di dalam kelas. Menggulung bibirnya menggunakan pensil. Ada-ada saja kakakmu itu Ta."
Lalu Pak Lis berlalu sambil melempar senyum lebar.
Sesampai di rumah, aku ceritakan hal itu kepada kakak, ibu, dan ayah waktu berkumpul di ruang keluarga.
Semua tertawa, kakakku yang paling lama tertawa.
Kakakku bilang, "Iya..aku paling tidak suka pelajaran IPA..membosankan..jadi aku mengisi kebosanan dengan bermain bibir seperti itu."
Ah, konyol.
Dan keesokan harinya, pelajaran pertama adalah IPA.
Waktu itu Pak Lis memberikan soal-soal latihan untuk menghadapi ujian.
Semua murid mengerjakan dengan tekun.
Aku juga mengerjakan dengan serius.
Sesekali aku menerawang untuk mengingat-ingat apa yang telah aku baca dan pelajari untuk menjawab soal-soal itu.
Lalu aku melihat Pak Lis duduk di bangku guru di depan kelas.
Pak Lis juga sedang melihatku.
Lalu tiba-tiba Pak Lis mengambil pulpennya, dan melakukan hal konyol yang menjadi kebiasaan kakak.
Seketika hafalanku buyar, aku menahan tawa, Pak Lis juga menahan tawa.
Pak Lis memang guruku yang paling perhatian dan jenaka ^-^
5. Bu Yuni (guru Biologi SMP)
Aku benar-benar tidak akan bisa melupakan kejadian bodoh ini.
Aku duduk di kelas 3 SMP.
Aku mempunyai kebiasaan dalam belajar.
Biasanya aku membaca dan menghafalkan terlebih dahulu materi bahan ujian.
Kemudian aku menyerahkan buku pelajaran kepada ibuku.
Aku meminta ibu memberikan pertanyaan dari materi terkait.
Kemudian aku menjawabnya dalam secarik kertas.
Semacam simulasi ujian.
Begitu juga untuk menghadapi ulangan harian Biologi waktu itu, aku belajar dengan cara tersebut.
Ujian pun dimulai.
Aku mengambil secarik kertas sebagai lembar jawab.
Ujian selesai, lembar jawab dikumpulkan.
Seminggu kemudian Bu Yuni membagikan hasil ulangan itu.
Satu per satu murid dipanggil.
Sampailah pada namaku.
Aku maju dan mengambil lembar jawabku.
Bu Yuni menahan lembar jawab itu, dan bertanya dengan lantang,
"Apa ini Ita??!!"
Kata Bu Wahyuni sambil membalik lembar jawabku.
Aku kaget!
Aku lihat ada tulisan tanganku di sana.
Itu adalah jawaban soal-soal dari ibuku saat belajar di rumah waktu itu!
Bu Yuni mengira itu adalah contekan.
Padahal aku sama sekali tidak menyontek.
Bahkan aku baru menyadari bahwa aku mengambil kertas yang salah untuk aku jadikan lembar jawaban ujianku.
Seharusnya aku mengambil kertas kosong.
Tapi justru aku mengambil kertas yang di halaman belakangnya terdapat catatan-catatan saat aku belajar.
Mati aku!
"Itu catatan waktu saya belajar di rumah Bu..."
Aku menjawab singkat.
"Catatan kok di dalam kertas ujian. Ini namanya mencontek! Pantas saja nilai-nilaimu selalu bagus. Ini nilaimu saya kurangi 30 point. Dan kamu harus mengikuti ujian perbaikan minggu depan bersama teman-temanmu yang nilainya di bawah 60!"
Sial!
Aku pun kembali duduk di bangkuku.
Aku lihat nilaiku...96 dikurangi 30, menjadi 66.
Masih di atas batas nilai untuk mengulang ujian.
Tapi aku harus ikut ujian perbaikan, dan aku memang sangat ingin mengikutinya..karena aku ingin membuktikan bahwa aku memang bisa menjawab, aku tidak mencontek!
Seminggu kemudian aku mengikuti ujian perbaikan..tentu saja sebelum ujian aku memastikan bahwa kertas lembar jawabku bersih.
Hasilnya, aku mendapatkan nilai 94.
Lebih rendah dari nilai awalku dulu..tetapi tidak mengapa.
Setidaknya aku sudah membuktikan kepada Bu Yuni bahwa aku memang tidak mencontek.
Weeek! :p
:-<
6. Bu Dyah (guru PPKn SMA)
Aku belajar kesederhanaan dari Bu Dyah.
Di saat guru-guru lain berlomba-lomba memamerkan mobil-mobil baru mereka, Bu Dyah tetap setia dengan sepedanya.
Bu Dyah setiap hari ke sekolah dengan mengayuh sepeda.
Kadang aku berpapasan di jalan saat berangkat ke sekolah.
Aku menyapa Bu Dyah, dan beliau membalas dengan lambaian tangan penuh semangat.
Di bagian belakang sepedanya terpasang kotak kayu.
Kotak kayu itu berisi barang-barang dagangan.
Ya, Bu Dyah suka menjual kue-kue di sekolah.
Banyak murid dan guru membeli dagangan Bu Dyah.
Bu Dyah tidak malu berjualan.
Lalu apakah Bu Dyah sangat miskin hingga harus mengajar sambil berjualan di sekolah?
Tidak!
Justru bisa dibilang Bu Dyah adalah guru terkaya di sekolahku saat itu.
Bu Dyah punya 2 mobil pribadi.
Waktu aku kelas 2, Bu Dyah sudah menunaikan ibadah haji.
Rumahnya ada 3.
Satu rumah yang ditempati Bu Dyah letaknya dekat dengan rumahku, satu kampung.
Sering aku melihat Bu Dyah berkeliling kampung menjual baju-baju dagangan.
Bahkan ibuku menjadi salah satu konsumen Bu Dyah :)
Dari sinilah aku belajar kesederhanaan dan kerendahan hati.
7. Pak Sur (dosen Rekayasa Proses)
Pak Sur adalah lulusan UNSW (The University of New South Wales), Australia.
Beliau dosenku saat S1.
Beliau juga dosen bimbingan skripsiku.
Sedikit mahasiswa yang berani menjadi anak bimbingan Pak Sur.
Kenapa?
Itu karena Pak Sur adalah dosen yang paling tegas dan galak.
Itulah anggapan para mahasiswa.
Image galak ini terbentuk karena beberapa bimbingan Pak Sur pernah kena marah.
Salah satunya adalah kakak angkatanku bernama Adi.
Kak Adi menceritakan kepadaku tentang pengalamannya bersama Pak Sur.
Waktu itu Kak Adi menghadap Pak Sur setelah sekian lama tidak melakukan bimbingan.
Setelah mengetuk pintu, Kak Adi dipersilakan masuk oleh Pak Sur.
Kak Adi : "Maaf permisi Pak, saya mau menyerahkan draft proposal skripsi saya Pak."
Pak Sur: "Kamu siapa?"
Kak Adi: "Saya mahasiswa bimbingan bapak.."
Pak Sur: "Saya tidak kenal kamu. Silakan keluar dari ruangan saya."
Hah???
Kak Adi menceritakan hal itu kepadaku karena waktu itu aku menjadi anak bimbingan Pak Sur.
Jadi Kak Adi menceritakan betapa kejam, galak, dan judesnya Pak Sur.
Aku takut mendengar cerita Kak Adi.
Dalam bayanganku, Pak Sur pasti benar-benar orang yang kejam, galak, dan judes.
Tapi aku tidak berniat mengganti pembimbing.
Aku ingin mencoba terlebih dahulu menjadi anak bimbingan Pak Sur.
Pertama kali menghadap, Pak Sur memang dingin.
Setelah aku menyerahkan proposal skripsi, beliau tetap tekun mengetik di komputernya seraya berkata, "Oke, nanti saya baca."
Itu saja...dan aku langsung pamit keluar, karena Pak Sur sama sekali tidak menanyakan lebih lanjut mengenai skripsiku.
Pertemuan selanjutnya, Pak Sur lebih bersahabat.
Beliau menyuruhku menjelaskan latar belakang dan tujuan penelitianku.
Sepertinya Pak Sur tertarik dengan tema penelitian yang aku angkat.
Bahkan Pak Sur meminjamkan buku referensinya untuk aku pelajari.
Sosok Pak Sur berangsur-angsur jauh dari penilaian awalku.
Pak Sur menjelaskan hal-hal yang sulit aku pahami.
Beliau sangat cerdas.
Ada satu hal yang tidak akan aku lupa dari sosok Pak Sur.
Yaitu bahwa Pak Sur adalah pecinta sepak bola.
Tim andalannya adalah Barca, Barcelona.
Aku punya taktik tersendiri sebagai anak bimbingan Pak Sur.
Jika Barca memenangkan pertandingan, maka keesokan harinya aku akan menghadap Pak Sur untuk bimbingan.
Di saat itulah mood beliau sedang bagus.
Dan aku sangat menghindari bimbingan setelah tim Barca kalah.
Itulah alasan mengapa aku selalu menjagokan Barca :D
Hehehee...
Aku merasa sosok Pak Sur benar-benar jauh berbeda dengan apa yang sebagian besar mahasiswa ceritakan.
Banyak rumor mengatakan bahwa mahasiswa bimbingan Pak Sur akan lulus lebih lama.
Tapi nyatanya aku lulus sesuai harapanku.
Nilainya pun memuaskan..A.
Aku senang sekali.
Dan yang membuatku lebih senang lagi, setelah lulus aku diberikan rekomendasi oleh Pak Sur untuk menjadi pengajar di kampusku.
Aku ingat kata-kata beliau waktu itu..
Pak Sur: " Kamu mau tidak jadi guru?"
Aku: "Guru Pak? Guru apa?"
Pak Sur: "Ya guru...seperti saya ini.."
Aku: *bengong*
Dan setelah menjadi pengajar, aku lebih mengenal sosok Pak Sur dan dosen-dosen yang lain.
Ternyata kehidupan dan karakter para dosen benar-benar jauh berbeda dengan apa yang mahasiswa lihat sehari-hari.
Terutama Pak Sur.
Beliau tegas, bukan galak.
Beliau perhatian, bukan kejam.
Beliau berfikir, bukan judes.
Aku ingat satu hal lagi tentang Pak Sur.
Waktu itu ada kunjungan dosen ke Jawa Barat.
Semua dosen berangkat ke Bandung bersama-sama untuk mengunjungi industri-industri di Jawa Barat.
Saat turun di stasiun Bandung, aku membawa koper dan tas berisi baju dan dokumen-dokumen.
Tiba-tiba Pak Sur menyapaku dari belakang,
"Berat ya Dik? Sini saya bawakan saja.."
Beliau sangat perhatian.
Pak Sur tidak memandang senioritas.
Aku semakin mengagumi sosok Pak Sur yang sangat kebapakan ini ^-^
Itulah beberapa guruku yang tak akan pernah aku lupa karena memang benar-benar membekas di hati :D
Terima kasih guru-guruku.
Keinginanku saat ini adalah ingin bertemu mereka.
Sepertinya aku akan mengunjungi sekolahan SD, SMP, dan SMA ku untuk bertemu mereka.
Semoga masih bisa dipertemukan :)
Jumat, 13 Juli 2012
Kamis, 12 Juli 2012
Tipe Penumpang Kereta
![]() |
| Hasil memotret dari sambungan gerbong kereta (plus editing Photoshop) |
Kereta api adalah alat transportasi darat yang paling aku suka untuk menempuh perjalanan jauh.
Kenapa aku suka kereta?
Bebas macet. Kalau naik bus, travel, atau mobil pribadi suka macet waktu melintasi jalur-jalur rawan macet.
Tepat waktu. Kalaupun terlambat tidak akan lama.
Tidak bikin pusing. Karena kecepatannya relatif stabil, tidak maen rem mendadak. Kalau naik mobil atau bus, kadang bikin pusing dan mual.
Nyaris tidak ada goncangan. Jalannya (rel) mulus.
Bisa jalan-jalan di dalam kereta, jadi tidak bosan. Kalau perjalanan kereta Bandung-Jogja aku sering meninggalkan tempat duduk dan beralih ke sambungan gerbong untuk memotret.
Bisa charge laptop dan handphone karena ada stop contact di dalam kereta (khusus kelas eksekutif).
Bisa pesan makanan dalam perjalanan, tanpa harus berhenti.
Bisa melihat-lihat penumpang lain dengan segala tingkah polah mereka.
Nah, point terakhir ini yang seru.
Setiap bepergian, aku memang suka mengamati orang-orang di sekelilingku.
Aku suka melihat beragam karakter orang di sekitarku.
Berikut beberapa tipe penumpang kereta berdasarkan hasil pengamatanku :D
1. Ibu-ibu yang banyak bicara
Biasanya tipe ini suka mengajak bicara penumpang sebelah dia.
Dan biasanya ibu-ibu.
Dan pembicaraan yang umum diobrolkan yaitu tentang anaknya.
Sang ibu menceritakan tentang anaknya dengan kesuksesan-kesuksesan yang telah dicapai sang anak.
Menggambarkan bahwa ibu ini sangat bangga dengan anaknya.
Pembicaraan ini akan berlangsung cukup lama, jadi kalau bertemu tipe ini maka siapkan telinga dan kesabaran anda :D
2. Lelaki yang banyak bertanya
Tentu saja partner bicara lelaki ini adalah wanita.
Awalnya sang lelaki bertanya, berhenti di mana mbak?
Lalu pertanyaan selanjutnya, oowh mudik ya? Di sini kuliah atau kerja?
Lalu disambung dengan pertanyaan lebih jauh tentang kuliah atau pekerjaan sang wanita.
Ujung-ujungnya nanya, sudah menikah? Sudah ada pacar? Wah nanti di stasiun dijemput pacarnya dong?
Biasanya kalau bertemu lelaki seperti ini, aku lebih memilih untuk pura-pura tidur atau membaca :D
3. Pasangan muda-mudi dimabuk cinta
Nah ini nih yang lucu.
Beberapa kali aku memperhatikan pasangan yang berada di dalam kereta.
Dan beberapa kali juga aku temui kasus yang sama.
Bermesraan di dalam kereta!
Awalnya sang cewek bersandar di bahu cowoknya.
Karena dingin kena AC, mereka ambil selimut.
Satu selimut untuk berdua.
Nah selanjutnya aku tidak tau apa yang terjadi di balik selimut :D
Yang pasti mereka tidurnya seperti tidak nyaman.
Sebentar-sebentar bergerak, pindah posisi.
Kurang kerjaan banget ya aku merhatiin yang beginian -______-"
4. Bapak-bapak ganjen
Bapak ini tidak pernah bisa duduk tenang.
Dia selalu tengok kanan tengok kiri.
Kalau di dekatnya ada sosok cewek yang berpenampilan "seksi", mata sang bapak akan tertuju ke sana.
Sesekali mencuri-curi pandang ke cewek itu dengan tatapan khas buaya lepas dari Taman Safari.
Aku suka risih aja lihat gelagat bapak-bapak macam ini.
Rasanya pengen culek matanya.
Tapi ya salah ceweknya juga yang berpenampilan seksi.
5. Bule
Bule selalu di tempatkan di tempat duduk bagian depan, atau bagian belakang, bukan di tengah-tengah.
Paling tidak itu yang sering aku jumpai di dalam kereta.
Dan mereka jarang duduk bersama penumpang pribumi.
Entah ini merupakan bagian dari kebijakan PT. KAI atau permintaan dari sang bule, aku belum mencari tau.
Biasanya sang bule membawa tas ransel besar, kebanyakan dari mereka memang backpacker.
Membawa kamera SLR dan buku bacaan untuk dibaca di perjalanan.
Penampilan mereka casual, santai.
6. Pendiam tapi membuat gaduh
Tipe yang satu ini tidak banyak bicara.
Dia hanya diam.
Karena dia tidur sepanjang perjalanan.
Tapi suara mendengkurnya terdengar sampai seantero gerbong.
Biasanya tipe ini adalah lelaki gendut paruh baya.
Tipe ini juga susah dibangunkan dan memang tidak mau dibangunkan.
Biasanya tiket keretanya dia taruh di depannya, supaya kondektur mudah mengambilnya tanpa membangunkannya.
| Source: ita's personal doc. |
Selasa, 10 Juli 2012
Merapi Dalam Memori
Aku hafal benar siklus Merapi sekitar 4 tahunan.
Setiap 4 tahun sekali dia meletus.
Aku masih ingat sewaktu aku duduk di bangku kelas 6 SD, waktu itu Merapi meletus (1998).
Saat itu aku sedang di dalam rumah.
Aku dengar ibu memanggil-manggil aku dari halaman depan.
Aku keluar dan melihat tetangga-tetanggaku sudah berkumpul di depan, dan semua menghadap ke arah utara.
Itulah posisi Gunung Merapi.
Aku mendekati ibu, dan kulihat awan hitam sudah membumbung tinggi dari bibir kawah merapi.
Jelas sekali terlihat karena waktu itu cuaca cerah.
Awan hitam itu sangat pekat dan berbentuk jamur, mirip seperti letusan bom Hiroshima-Nagasaki yang aku lihat di buku sejarah.
Namun tak lama awan letusan itu menyebar, turun, dan menutupi kegagahan Gunung Merapi.
Aku juga menyaksikan letusan Merapi 2001.
Waktu itu aku duduk di bangku kelas 3 SMP.
Ada cerita lucu saat itu.
Jadi pagi itu seperti biasa aku berangkat ke sekolah naik sepeda.
SMP-ku memang melarang murid-muridnya mengendarai sepeda motor ke sekolah karena kami belum memiliki SIM.
Walaupun begitu, ada juga beberapa teman yang mengendarai sepeda motor ke sekolah karena alasan jarak rumahnya jauh.
Salah satu teman yang membawa sepeda motor adalah Wahyu, teman sekelasku.
Waktu itu sesampai di gerbang sekolah, aku merasakan ada benda asing seperti debu yang masuk ke dalam mataku.
Awalnya aku pikir memang debu.
Tapi lama kelamaan debu itu semakin banyak dan semakin perih kalau masuk ke mata.
Ternyata itu hujan debu dari letusan Gunung Merapi.
Bel sekolah pun berbunyi.
Pelajaran pertama waktu itu adalah Bahasa Inggris.
Guru Bahasa Inggrisku bernama Bu Lestari.
Dia terkenal judes dan galak.
Setelah berdoa bersama, pelajaran pun dimulai.
Namun sebelum pelajaran dimulai, Bu Lestari mengawali dengan keluhan karena matanya pedih terkena debu Merapi, sampai mata Bu Lestari terlihat merah sekali.
Lalu tiba-tiba mata merah Bu Lestari tertuju pada satu bangku kosong di ujung kelas.
Itu bangku si Wahyu, temanku yang selalu terlambat masuk.
Ternyata sepeda motor tidak terlalu membantunya untuk menghindari terlambat.
Bu Lestari pun menggerutu melihat bangku Wahyu yang masih kosong, padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.20.
Lalu tiba-tiba pintu kelas terbuka pelan.
Nah Wahyu datang!
Seperti biasanya, pasti akan ada adegan Bu Lestari ngomel-ngomel memarahi Wahyu dan menghukumnya berdiri di depan kelas selama mata pelajaran berlangsung.
Tapi ternyata hari ini berbeda!
Wahyu masuk kelas dan tertunduk.
Sepertinya dia sudah pasrah untuk dihukum Bu Lestari.
Namun setelah Wahyu mengangkat wajahnya, seisi ruangan tiba-tiba gaduh.
Semua tertawa.
Tak terkecuali Bu Lestari.
Aku masih ingat betul wajah Wahyu saat itu.
Wajahnya dipenuhi debu Merapi!
Dan lucunya lagi, debu itu membentuk bekas slayer (penutup muka) dan kacamata.
Wahyu memang suka memakai slayer dan kacamata hitam setiap mengendarai motor.
Wajah Wahyu yang hitam membuat debu-debu Merapi itu terlihat jelas membentuk "topeng" di mukanya.
Dan lucunya lagi, Wahyu tidak menyadarinya!
Dia kaget dan terheran-heran melihat seisi ruangan tertawa terbahak-bahak.
Bahkan Bu Lestari yang biasanya marah-marah pun bisa tertawa lepas.
"Letakkan tasmu, lalu cuci mukalah sana...", begitu kata Bu Lestari.
Dan akhirnya hari itu Wahyu tidak diberi hukuman.
Debu Merapi telah menyelamatkan Wahyu dari hukuman.
Tahun 2006 Merapi kembali aktif.
Lava pijar sering keluar dari bibir kawah dan bisa terlihat jelas pada malam hari.
Suara gemuruh terdengar setiap aku terjaga dari tidur di tengah malam.
Itu sekitar pertengahan bulan Mei.
Lalu pada 27 Mei 2006, terjadi gempa tektonik di Jogja yang menelan ribuan korban jiwa.
Gempa itu berpusat di Kali Opak, Pundong, Bantul, Yogyakarta (dekat pantai selatan).
Ada cerita juga saat gempa terjadi.
Waktu itu hari Sabtu, pagi-pagi pukul 05.15 keponakanku (Salma) sudah mandi, rapi, dan cantik.
Waktu itu sekolah TK Salma mengadakan liburan ke Kaliurang.
Status Merapi yang "siaga" tidak membuat pihak sekolah mengurungkan niat untuk liburan ke Kaliurang.
Padahal Kaliurang sendiri terletak di kaki Gunung Merapi.
Salma pun diantar mamanya ke sekolah.
Tak lama setelah Salma berangkat ke sekolah, gempa terjadi.
Cukup besar dan lama.
Keluargaku panik, semua berhamburan keluar rumah.
Tetangga semua keluar.
Aku melihat ke arah Gunung Merapi.
Semua berpikir ini adalah gempa vulkanik dari Gunung Merapi.
Tak lama kendaraan berlalu lalang dan terlihat orang-orang panik menjauh dari Gunung Merapi, menuju ke selatan.
Semua takut terkena wedhus gembel katanya.
Namun tak lama kemudian kendaraan berbalik arah, semua menuju ke utara.
Katanya ada tsunami dari arah pantai selatan di sisi selatan Jogja.
Jadi semua ke utara.
Jalanan kacau, semrawut.
Keluargaku juga sempat kebingungan.
Dan seperti biasa, yang paling panik adalah Ayah.
Ibu terlihat lebih tenang.
Tapi Ayah sudah berkemas-kemas dan menyiapkan kendaraan untuk mengungsi ke Solo, tempat saudara.
Lalu tiba-tiba aku teringat Salma dan mamanya.
Mereka masih di sekolahan.
Di antara orang-orang panik itu, tiba-tiba terlihatlah Salma dan kakak dari kejauhan.
Mereka berjalan kaki pulang.
Jarak sekolahan Salma ke rumah sekitar 500 meter.
Lalu kakak bercerita bahwa di jalan tidak ada satupun orang yang mau mengantarkannya pulang ke rumah.
Semua orang panik dan mencoba menyelamatkan diri mereka sendiri.
Keluargaku pun sudah berkumpul semua.
Tapi sudah kami putuskan untuk tetap tinggal di rumah dan tidak kemana-mana.
Kami yakin wedhus gembel tidak akan sampai ke rumah kami dan tsunami juga tidak akan menerjang rumah kami.
Kami pasrah dan berdoa.
Dan ternyata memang tidak terjadi apa-apa di rumah kami.
Alhamdulillah semua aman.
Walaupun ternyata ribuan nyawa hilang karena gempa dahsyat itu.
Ribuan lainnya terluka dan rumah-rumah mereka hancur.
Aku berdoa untuk mereka semua...
Yang terakhir adalah letusan Merapi 2010.
Oktober 2010...
Waktu itu posisiku sedang berada di Bandung.
Baru saja masuk semester 1.
Aku melihat berita mengenai gempa vulkanik yang terjadi di Gunung Merapi, Jogja.
"Sepertinya memang sudah saatnya meletus", pikirku waktu itu dalam hati.
Benar saja, itu merupakan letusan Merapi terdahsyat yang pernah aku lihat.
Letusan ini banyak menelan korban jiwa, salah satunya adalah Mbah Marijan, juru kunci Gunung Merapi.
Mbah Marijan orang yang sangat ramah dan baik.
Dia tinggal di lereng Merapi dan enggan meninggalkannya hingga ajal menjemputnya di sana.
Mbah Marijan sangat dekat dengan teman-teman pecinta alam.
Rumah Mbah Marijan sering dijadikan tempat singgah dan bermalam bagi para pecinta alam.
Walaupun sudah terkenal karena iklan televisi (Extra Joss), namun Mbah Marijan tidak berubah.
Beliau tetap santun dan ramah.
Bahkan uang hasil membintangi iklan itu beliau sumbangkan untuk pendirian masjid di kampungnya dan untuk perbaikan jalan desa.
Itu cerita yang aku dapatkan dari teman pecinta alam yang dekat dengan sosok Mbah Marijan.
Setelah letusan terbesar, aku bersama teman-teman berinisiatif untuk menyalurkan bantuan secara langsung ke area pengungsian warga.
Waktu itu kami berangkat dengan 3 mobil.
Kami berangkat 7 orang (aku, Mambo, Wewex, Andre, Black, Bani, dan Indra' Simbah).
Kami langsung mendatangi posko logistik para pengungsi Merapi di lereng Gunung Merapi.
Kami memilih mendatangi posko-posko yang terpelosok, karena posko-posko ini lebih jarang mendapatkan bantuan.
Bahkan kami memasuki suatu desa yang sebenarnya masuk kawasan rawan, tidak boleh sembarang orang masuk ke sana kecuali tentara pengaman.
Namun di kawasan itu masih ada penduduk yang tinggal di rumah mereka dan bersikeras tidak mau turun.
Kami diperbolehkan masuk dan kami pun mendatangi warga-warga itu.
Warga desa itu sangat ramah.
Aku tersentuh melihat keluguan mereka.
Begitu mobil kami memasuki desa, semua warga mendatangi dan berterima kasih.
Kemudian kami beserta warga mengangkut bantuan-bantuan berupa makanan, obat-obatan, dan pakaian menuju salah satu rumah warga.
Betapa kamu akan sangat bersyukur dengan keadaanmu saat ini, jika kamu melihat secara langsung keadaan saudara-saudara kita ini.
Beberapa bulan yang lalu ada teman bercerita bahwa Merapi akan meletus lagi, dan lebih hebat lagi.
Dia menambahkan, bahwa akan terbentuk danau besar akibat letusan Merapi yang entah kapan itu..
Pernyataan ini keluar dari mulut seorang anak indigo :)
Seperti apa kebenarannya? Wallahu a'lam bishawab...
Setiap 4 tahun sekali dia meletus.
Aku masih ingat sewaktu aku duduk di bangku kelas 6 SD, waktu itu Merapi meletus (1998).
Saat itu aku sedang di dalam rumah.
Aku dengar ibu memanggil-manggil aku dari halaman depan.
Aku keluar dan melihat tetangga-tetanggaku sudah berkumpul di depan, dan semua menghadap ke arah utara.
Itulah posisi Gunung Merapi.
Aku mendekati ibu, dan kulihat awan hitam sudah membumbung tinggi dari bibir kawah merapi.
Jelas sekali terlihat karena waktu itu cuaca cerah.
Awan hitam itu sangat pekat dan berbentuk jamur, mirip seperti letusan bom Hiroshima-Nagasaki yang aku lihat di buku sejarah.
Namun tak lama awan letusan itu menyebar, turun, dan menutupi kegagahan Gunung Merapi.
Aku juga menyaksikan letusan Merapi 2001.
Waktu itu aku duduk di bangku kelas 3 SMP.
Ada cerita lucu saat itu.
Jadi pagi itu seperti biasa aku berangkat ke sekolah naik sepeda.
SMP-ku memang melarang murid-muridnya mengendarai sepeda motor ke sekolah karena kami belum memiliki SIM.
Walaupun begitu, ada juga beberapa teman yang mengendarai sepeda motor ke sekolah karena alasan jarak rumahnya jauh.
Salah satu teman yang membawa sepeda motor adalah Wahyu, teman sekelasku.
Waktu itu sesampai di gerbang sekolah, aku merasakan ada benda asing seperti debu yang masuk ke dalam mataku.
Awalnya aku pikir memang debu.
Tapi lama kelamaan debu itu semakin banyak dan semakin perih kalau masuk ke mata.
Ternyata itu hujan debu dari letusan Gunung Merapi.
Bel sekolah pun berbunyi.
Pelajaran pertama waktu itu adalah Bahasa Inggris.
Guru Bahasa Inggrisku bernama Bu Lestari.
Dia terkenal judes dan galak.
Setelah berdoa bersama, pelajaran pun dimulai.
Namun sebelum pelajaran dimulai, Bu Lestari mengawali dengan keluhan karena matanya pedih terkena debu Merapi, sampai mata Bu Lestari terlihat merah sekali.
Lalu tiba-tiba mata merah Bu Lestari tertuju pada satu bangku kosong di ujung kelas.
Itu bangku si Wahyu, temanku yang selalu terlambat masuk.
Ternyata sepeda motor tidak terlalu membantunya untuk menghindari terlambat.
Bu Lestari pun menggerutu melihat bangku Wahyu yang masih kosong, padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.20.
Lalu tiba-tiba pintu kelas terbuka pelan.
Nah Wahyu datang!
Seperti biasanya, pasti akan ada adegan Bu Lestari ngomel-ngomel memarahi Wahyu dan menghukumnya berdiri di depan kelas selama mata pelajaran berlangsung.
Tapi ternyata hari ini berbeda!
Wahyu masuk kelas dan tertunduk.
Sepertinya dia sudah pasrah untuk dihukum Bu Lestari.
Namun setelah Wahyu mengangkat wajahnya, seisi ruangan tiba-tiba gaduh.
Semua tertawa.
Tak terkecuali Bu Lestari.
Aku masih ingat betul wajah Wahyu saat itu.
Wajahnya dipenuhi debu Merapi!
Dan lucunya lagi, debu itu membentuk bekas slayer (penutup muka) dan kacamata.
Wahyu memang suka memakai slayer dan kacamata hitam setiap mengendarai motor.
Wajah Wahyu yang hitam membuat debu-debu Merapi itu terlihat jelas membentuk "topeng" di mukanya.
Dan lucunya lagi, Wahyu tidak menyadarinya!
Dia kaget dan terheran-heran melihat seisi ruangan tertawa terbahak-bahak.
Bahkan Bu Lestari yang biasanya marah-marah pun bisa tertawa lepas.
"Letakkan tasmu, lalu cuci mukalah sana...", begitu kata Bu Lestari.
Dan akhirnya hari itu Wahyu tidak diberi hukuman.
Debu Merapi telah menyelamatkan Wahyu dari hukuman.
Tahun 2006 Merapi kembali aktif.
Lava pijar sering keluar dari bibir kawah dan bisa terlihat jelas pada malam hari.
Suara gemuruh terdengar setiap aku terjaga dari tidur di tengah malam.
Itu sekitar pertengahan bulan Mei.
Lalu pada 27 Mei 2006, terjadi gempa tektonik di Jogja yang menelan ribuan korban jiwa.
Gempa itu berpusat di Kali Opak, Pundong, Bantul, Yogyakarta (dekat pantai selatan).
Ada cerita juga saat gempa terjadi.
Waktu itu hari Sabtu, pagi-pagi pukul 05.15 keponakanku (Salma) sudah mandi, rapi, dan cantik.
Waktu itu sekolah TK Salma mengadakan liburan ke Kaliurang.
Status Merapi yang "siaga" tidak membuat pihak sekolah mengurungkan niat untuk liburan ke Kaliurang.
Padahal Kaliurang sendiri terletak di kaki Gunung Merapi.
Salma pun diantar mamanya ke sekolah.
Tak lama setelah Salma berangkat ke sekolah, gempa terjadi.
Cukup besar dan lama.
Keluargaku panik, semua berhamburan keluar rumah.
Tetangga semua keluar.
Aku melihat ke arah Gunung Merapi.
Semua berpikir ini adalah gempa vulkanik dari Gunung Merapi.
Tak lama kendaraan berlalu lalang dan terlihat orang-orang panik menjauh dari Gunung Merapi, menuju ke selatan.
Semua takut terkena wedhus gembel katanya.
Namun tak lama kemudian kendaraan berbalik arah, semua menuju ke utara.
Katanya ada tsunami dari arah pantai selatan di sisi selatan Jogja.
Jadi semua ke utara.
Jalanan kacau, semrawut.
Keluargaku juga sempat kebingungan.
Dan seperti biasa, yang paling panik adalah Ayah.
Ibu terlihat lebih tenang.
Tapi Ayah sudah berkemas-kemas dan menyiapkan kendaraan untuk mengungsi ke Solo, tempat saudara.
Lalu tiba-tiba aku teringat Salma dan mamanya.
Mereka masih di sekolahan.
Di antara orang-orang panik itu, tiba-tiba terlihatlah Salma dan kakak dari kejauhan.
Mereka berjalan kaki pulang.
Jarak sekolahan Salma ke rumah sekitar 500 meter.
Lalu kakak bercerita bahwa di jalan tidak ada satupun orang yang mau mengantarkannya pulang ke rumah.
Semua orang panik dan mencoba menyelamatkan diri mereka sendiri.
Keluargaku pun sudah berkumpul semua.
Tapi sudah kami putuskan untuk tetap tinggal di rumah dan tidak kemana-mana.
Kami yakin wedhus gembel tidak akan sampai ke rumah kami dan tsunami juga tidak akan menerjang rumah kami.
Kami pasrah dan berdoa.
Dan ternyata memang tidak terjadi apa-apa di rumah kami.
Alhamdulillah semua aman.
Walaupun ternyata ribuan nyawa hilang karena gempa dahsyat itu.
Ribuan lainnya terluka dan rumah-rumah mereka hancur.
Aku berdoa untuk mereka semua...
Yang terakhir adalah letusan Merapi 2010.
Oktober 2010...
Waktu itu posisiku sedang berada di Bandung.
Baru saja masuk semester 1.
Aku melihat berita mengenai gempa vulkanik yang terjadi di Gunung Merapi, Jogja.
"Sepertinya memang sudah saatnya meletus", pikirku waktu itu dalam hati.
Benar saja, itu merupakan letusan Merapi terdahsyat yang pernah aku lihat.
Letusan ini banyak menelan korban jiwa, salah satunya adalah Mbah Marijan, juru kunci Gunung Merapi.
Mbah Marijan orang yang sangat ramah dan baik.
Dia tinggal di lereng Merapi dan enggan meninggalkannya hingga ajal menjemputnya di sana.
Mbah Marijan sangat dekat dengan teman-teman pecinta alam.
Rumah Mbah Marijan sering dijadikan tempat singgah dan bermalam bagi para pecinta alam.
Walaupun sudah terkenal karena iklan televisi (Extra Joss), namun Mbah Marijan tidak berubah.
Beliau tetap santun dan ramah.
Bahkan uang hasil membintangi iklan itu beliau sumbangkan untuk pendirian masjid di kampungnya dan untuk perbaikan jalan desa.
Itu cerita yang aku dapatkan dari teman pecinta alam yang dekat dengan sosok Mbah Marijan.
Setelah letusan terbesar, aku bersama teman-teman berinisiatif untuk menyalurkan bantuan secara langsung ke area pengungsian warga.
Waktu itu kami berangkat dengan 3 mobil.
Kami berangkat 7 orang (aku, Mambo, Wewex, Andre, Black, Bani, dan Indra' Simbah).
Kami langsung mendatangi posko logistik para pengungsi Merapi di lereng Gunung Merapi.
Kami memilih mendatangi posko-posko yang terpelosok, karena posko-posko ini lebih jarang mendapatkan bantuan.
Bahkan kami memasuki suatu desa yang sebenarnya masuk kawasan rawan, tidak boleh sembarang orang masuk ke sana kecuali tentara pengaman.
Namun di kawasan itu masih ada penduduk yang tinggal di rumah mereka dan bersikeras tidak mau turun.
Kami diperbolehkan masuk dan kami pun mendatangi warga-warga itu.
Warga desa itu sangat ramah.
Aku tersentuh melihat keluguan mereka.
Begitu mobil kami memasuki desa, semua warga mendatangi dan berterima kasih.
Kemudian kami beserta warga mengangkut bantuan-bantuan berupa makanan, obat-obatan, dan pakaian menuju salah satu rumah warga.
Betapa kamu akan sangat bersyukur dengan keadaanmu saat ini, jika kamu melihat secara langsung keadaan saudara-saudara kita ini.
Beberapa bulan yang lalu ada teman bercerita bahwa Merapi akan meletus lagi, dan lebih hebat lagi.
Dia menambahkan, bahwa akan terbentuk danau besar akibat letusan Merapi yang entah kapan itu..
Pernyataan ini keluar dari mulut seorang anak indigo :)
Seperti apa kebenarannya? Wallahu a'lam bishawab...
| Penyaluran bantuan Merapi bersama teman-teman (Source: ita's personal doc.) |
Langganan:
Postingan (Atom)


