Lirik lagu pertama yang aku buat belum ada judulnya.
Itu lirik yang aku buat bersama temanku, Radie (ada di postingan sebelumnya - Apa Judulnya?).
Setelah membuat lagu bersama Radie, ada seorang teman juga yang meminta tolong untuk dibuatkan lirik lagu.
Temanku itu bernama Dika.
Sebenarnya aku agak heran...kenapa aku jadi semacam komponis gini yah :-?
Tapi gak papa..aku suka berpujangga :">
Ini liriknya..
Biarkan Kumenunggu
[bait 1]
aku lupa bagaimana
rasanya jatuh cinta
hingga kau datang
membawakannya
[bait 2]
sejenak tawamu hilangkan sepi
dan candamu jauhkan luka
yaa..aku sedang jatuh cinta
[bait 3]
mungkin aku tak sempurna
mungkin aku biasa saja
tapi kumohon ijinkanlah
diri ini singgah di hatimu
[Reff]
kusuka senyummu
kusuka tingkahmu
biarkan kumenunggu..
biarkan kumenunggu..
[Bait 4]
ku tak tau isi hatimu
entah suka...entah ragu..
tapi kuyakin ada sesuatu
Ku kan menunggu, hingga saat itu tiba
Liriknya kacau =))
Dibuat dalam waktu singkat..30 menit
Kalau lirik yang kubuat bareng Radie memakan waktu dari tengah malam sampai subuh =))
Kalau yang satu ini cukup cepat
Gara-gara dikejar-kejar si Dika..jadi bikinnya kayak kerja rodi #-o
Hasilnya ya gitu deh :|
Tapi gak papalah..my second scratch has been born \m/
Actually..the horrible scratch :| =))
Kamis, 31 Mei 2012
Aku dan Pocky
Pocky namanya..
Badannya kecil, kulitnya hitam.
Tapi dia kuat dan tangguh.
Dia sering mengantarkanku jalan-jalan.
Kalau hari libur di Jogja, aku suka jalan-jalan pagi menyusuri pedesaan.
Pocky lah yang mengantarkan dan menemaniku.
Ini dia si Pocky :)
Pocky adalah sepeda lipatku.
Aku suka sekali bersepeda.
Kalau di Jogja, aku suka ikut Jogja Last Friday Ride/JLFR (acara bersepeda di Jogja setiap hari Jumat terakhir setiap bulan).
Rute JLFR biasanya mengelilingi kota Jogja.
Pocky sudah sering aku ajak keliling kota Jogja.
Aku pernah naik ke Pakem (dekat Kaliurang) bersama Pocky.
Pocky juga pernah aku bawa ke Bandung.
Tinggal dilipat dan aku bawa Pocky di dalam kereta.
Di Bandung, Pocky sering aku bawa ke kampus.
Kalau di Bandung, menurutku mengendarai mobil ke kampus adalah kesalahan besar.
Sulit mencari tempat parkir mobil di kampus ITB.
Bahkan tempat parkir sepeda motor pun penuh sesak.
Sebenarnya lebih fleksibel jika membawa sepeda.
Tapi ya itu...karena kos ku berada di daerah atas, jadi waktu pulang dari kampus harus mengerahkan ekstra tenaga.
Karena alasan itulah, akhirnya aku tidak lagi naik sepeda ke kampus :D
Pocky hanya aku pakai kalau aku ingin refreshing.
Pernah juga aku bawa Pocky naik ke daerah Dago Atas, tepatnya di Warung Bandrek (Warban).
Aku dapet kenalan di sana :D
Cowok..ganteng sih...tapi lebih ganteng lagi kalau dilihat 40 tahun yang lalu :((
Soalnya ini bapak-bapak yang usianya mungkin sekitar 65 tahunan :-s
Nah aku ada cerita tentang Bapak ini.
Panggilan bapak ini adalah Pak Haji.
Aku bertemu Pak Haji di Warban.
Disebut Warban (Warung Bandrek) karena itu merupakan warung di bukit Dago atas yang menjual minuman bandrek.
Di Warban inilah banyak pecinta sepeda gunung (MTB = Mountain Bike) berkumpul.
Nah, Pak Haji ini salah satunya.
Biasanya memang yang naik ke Warban itu menggunakan sepeda gunung.
Nah waktu pertama kali ke Warban, aku pakai si Pocky, sepeda lipat :D
Dan waktu itu sepeda lipat masih jarang banget yang punya.
Aku naik sendiri, iseng-iseng... (aku diomelin abang setelah cerita kalo aku sepedaan sendirian) :|
Pas setengah perjalanan, jalan mulai menanjak..berat...
Aku turun dan menuntun si Pocky.
Tiba-tiba dari belakangku ada suara menyapaku.
Itulah awal mula aku bertemu Pak Haji.
Pak Haji itu orangnya baik.
Beliau menyapa dan menemaniku berjalan menuntun sepeda.
Di usianya yang mungkin mendekati kepala tujuh, Pak Haji termasuk masih segar.
Dia menemaniku berjalan sambil ngobrol.
Ternyata Pak Haji adalah seorang pensiunan.
Beliau selalu bersepeda ke Warban setiap akhir pekan bersama komunitasnya.
Pak Haji menyemangatiku agar bisa sampai ke Warban.
Namun saat mencapai 3/4 perjalanan, aku sudah merasa lemas sekali.
Akhirnya aku putuskan untuk berhenti.
Pak Haji pun meneruskan perjalanan menuju Warban.
Aku beristirahat di tepi jalan, sendirian..di antara pohon2 pinus.
Aku suka sekali udara pegunungan.
Sambil duduk, aku teringat sosok Pak Haji tadi.
Baik hati, berwibawa, supel...aku jadi teringat almarhum Yangkung (panggilan untuk Eyang Kakung/Kakek).
Seketika semangatku muncul kembali.
Aku pun bertekad melanjutkan perjalanan...tentu saja si Pocky masih aku tuntun karena jalan menanjak :D
Di perjalanan aku bertemu beberapa orang yang bersepeda, dan semuanya laki-laki.
Tidak aku temui wanita satupun.
Tapi aku tetap menuntun sepedaku hingga sampailah di jalanan yang tidak terlalu menanjak.
Aku kembali menaiki Pocky.
Tak lama kemudian, sampailah aku di Warban.
Banyak sekali sepeda-sepeda MTB parkir di dekat warung kecil yang menyediakan berbagai macam cemilan itu.
Pas aku tiba di sana, hampir semua mata tertuju padaku.
Cewek, sendirian, naik sepeda lipat, sampai di Warban.
Mungkin pemandangan yang aneh bagi mereka :D
Dan di antara kerumunan orang-orang di dekat warung, aku melihat Pak Haji.
Beliau tersenyum melihatku dan menghampiri.
Pak Haji: akhirnya sampai juga ya..
Aku: iya Pak :D tapi tadi saya tuntun...capek Pak
Pak Haji: aaah itu biasa..apalagi kamu naik sepeda lipat, bukan sepeda gunung..pasti berat sekali :)
Aku: iya Pak...heheehe..
Pak Haji: kalau boleh tau, namanya siapa?
Aku: saya Ita Pak.. (sambil berjabat tangan)
Pak Haji: ooh..yaudah Ita istirahat dulu, sambil beli cemilan..nanti kita lanjtkan lagi ngobrolnya :)
Aku: iya pak..terimakasih..
Aku pun membeli segelas bandrek dan buah pisang, lalu kembali mengobrol dengan Pak Haji.
Benar-benar beliau sosok yang bersahaja.
Beliau bercerita tentang pekerjaan, keluarga, dan tentang sepeda.
Aku belajar mengenai kegigihan dari Pak Haji.
Sepulang dari Warban, aku bercerita tentang Pak Haji ke abangku.
Dan 2 bulan kemudian abang main ke Bandung, lalu aku ajak bersepeda ke Warban.
Kami bertemu dengan Pak Haji di Warban.
Dan yang membuatku terkejut, Pak Haji masih ingat namaku..."Eh Ita ke sini lagi...ayo sini minum bandrek bareng", begitu beliau menyapa :)
Senang sekali mempunyai teman baru :D
Sekarang Pocky sudah aku kirim ke Jogja.
Di Bandung tanpa Pocky :( kangen Pocky...
Badannya kecil, kulitnya hitam.
Tapi dia kuat dan tangguh.
Dia sering mengantarkanku jalan-jalan.
Kalau hari libur di Jogja, aku suka jalan-jalan pagi menyusuri pedesaan.
Pocky lah yang mengantarkan dan menemaniku.
Ini dia si Pocky :)
![]() |
| Source: ita's personal doc. |
Pocky adalah sepeda lipatku.
Aku suka sekali bersepeda.
Kalau di Jogja, aku suka ikut Jogja Last Friday Ride/JLFR (acara bersepeda di Jogja setiap hari Jumat terakhir setiap bulan).
Rute JLFR biasanya mengelilingi kota Jogja.
Pocky sudah sering aku ajak keliling kota Jogja.
Aku pernah naik ke Pakem (dekat Kaliurang) bersama Pocky.
Pocky juga pernah aku bawa ke Bandung.
Tinggal dilipat dan aku bawa Pocky di dalam kereta.
Di Bandung, Pocky sering aku bawa ke kampus.
Kalau di Bandung, menurutku mengendarai mobil ke kampus adalah kesalahan besar.
Sulit mencari tempat parkir mobil di kampus ITB.
Bahkan tempat parkir sepeda motor pun penuh sesak.
Sebenarnya lebih fleksibel jika membawa sepeda.
Tapi ya itu...karena kos ku berada di daerah atas, jadi waktu pulang dari kampus harus mengerahkan ekstra tenaga.
Karena alasan itulah, akhirnya aku tidak lagi naik sepeda ke kampus :D
Pocky hanya aku pakai kalau aku ingin refreshing.
Pernah juga aku bawa Pocky naik ke daerah Dago Atas, tepatnya di Warung Bandrek (Warban).
Aku dapet kenalan di sana :D
Cowok..ganteng sih...tapi lebih ganteng lagi kalau dilihat 40 tahun yang lalu :((
Soalnya ini bapak-bapak yang usianya mungkin sekitar 65 tahunan :-s
Nah aku ada cerita tentang Bapak ini.
Panggilan bapak ini adalah Pak Haji.
Aku bertemu Pak Haji di Warban.
Disebut Warban (Warung Bandrek) karena itu merupakan warung di bukit Dago atas yang menjual minuman bandrek.
Di Warban inilah banyak pecinta sepeda gunung (MTB = Mountain Bike) berkumpul.
Nah, Pak Haji ini salah satunya.
Biasanya memang yang naik ke Warban itu menggunakan sepeda gunung.
Nah waktu pertama kali ke Warban, aku pakai si Pocky, sepeda lipat :D
Dan waktu itu sepeda lipat masih jarang banget yang punya.
Aku naik sendiri, iseng-iseng... (aku diomelin abang setelah cerita kalo aku sepedaan sendirian) :|
Pas setengah perjalanan, jalan mulai menanjak..berat...
Aku turun dan menuntun si Pocky.
Tiba-tiba dari belakangku ada suara menyapaku.
Itulah awal mula aku bertemu Pak Haji.
Pak Haji itu orangnya baik.
Beliau menyapa dan menemaniku berjalan menuntun sepeda.
Di usianya yang mungkin mendekati kepala tujuh, Pak Haji termasuk masih segar.
Dia menemaniku berjalan sambil ngobrol.
Ternyata Pak Haji adalah seorang pensiunan.
Beliau selalu bersepeda ke Warban setiap akhir pekan bersama komunitasnya.
Pak Haji menyemangatiku agar bisa sampai ke Warban.
Namun saat mencapai 3/4 perjalanan, aku sudah merasa lemas sekali.
Akhirnya aku putuskan untuk berhenti.
Pak Haji pun meneruskan perjalanan menuju Warban.
Aku beristirahat di tepi jalan, sendirian..di antara pohon2 pinus.
Aku suka sekali udara pegunungan.
Sambil duduk, aku teringat sosok Pak Haji tadi.
Baik hati, berwibawa, supel...aku jadi teringat almarhum Yangkung (panggilan untuk Eyang Kakung/Kakek).
Seketika semangatku muncul kembali.
Aku pun bertekad melanjutkan perjalanan...tentu saja si Pocky masih aku tuntun karena jalan menanjak :D
Di perjalanan aku bertemu beberapa orang yang bersepeda, dan semuanya laki-laki.
Tidak aku temui wanita satupun.
Tapi aku tetap menuntun sepedaku hingga sampailah di jalanan yang tidak terlalu menanjak.
Aku kembali menaiki Pocky.
Tak lama kemudian, sampailah aku di Warban.
Banyak sekali sepeda-sepeda MTB parkir di dekat warung kecil yang menyediakan berbagai macam cemilan itu.
Pas aku tiba di sana, hampir semua mata tertuju padaku.
Cewek, sendirian, naik sepeda lipat, sampai di Warban.
Mungkin pemandangan yang aneh bagi mereka :D
Dan di antara kerumunan orang-orang di dekat warung, aku melihat Pak Haji.
Beliau tersenyum melihatku dan menghampiri.
Pak Haji: akhirnya sampai juga ya..
Aku: iya Pak :D tapi tadi saya tuntun...capek Pak
Pak Haji: aaah itu biasa..apalagi kamu naik sepeda lipat, bukan sepeda gunung..pasti berat sekali :)
Aku: iya Pak...heheehe..
Pak Haji: kalau boleh tau, namanya siapa?
Aku: saya Ita Pak.. (sambil berjabat tangan)
Pak Haji: ooh..yaudah Ita istirahat dulu, sambil beli cemilan..nanti kita lanjtkan lagi ngobrolnya :)
Aku: iya pak..terimakasih..
Aku pun membeli segelas bandrek dan buah pisang, lalu kembali mengobrol dengan Pak Haji.
Benar-benar beliau sosok yang bersahaja.
Beliau bercerita tentang pekerjaan, keluarga, dan tentang sepeda.
Aku belajar mengenai kegigihan dari Pak Haji.
Sepulang dari Warban, aku bercerita tentang Pak Haji ke abangku.
Dan 2 bulan kemudian abang main ke Bandung, lalu aku ajak bersepeda ke Warban.
Kami bertemu dengan Pak Haji di Warban.
Dan yang membuatku terkejut, Pak Haji masih ingat namaku..."Eh Ita ke sini lagi...ayo sini minum bandrek bareng", begitu beliau menyapa :)
Senang sekali mempunyai teman baru :D
Sekarang Pocky sudah aku kirim ke Jogja.
Di Bandung tanpa Pocky :( kangen Pocky...
| Pak Haji (baju putih), teman baru di Warung Bandrek, Bandung :) |
Asuransi Asal Mandi
Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan telefon dari sebuah perusahaan asuransi yang bernaung di bawah sebuah bank swasta terkemuka.
Berikut percakapan yang terjadi via telefon antara aku dan petugas asuransi (sebut saja Sur).
tuuuut...............tuuuut.......
Aku: ya halo
Sur: selamat pagi, dengan ibu Anindia?
Aku: ya saya sendiri
Sur: maaf ibu kami dari asuransi Asal Mandi (nama samaran :D). Kali ini kami ingin menginformasikan bahwa ibu mendapatkan kesempatan mengikuti program asuransi secara gratis selama 2 bulan tanpa membayar premi, karena ibu merupakan nasabah Bank kami yang cukup aktif.
Aku: oh.. (nada sedikit kecewa, karena kukira mau dapet hadiah dari Bank) :|
Sur: iya, jadi terhitung dari hari ini, jika ibu atau ahli waris ibu mendapatkan musibah hingga meninggal dunia, maka ibu akan mendapatkan 25 juta yang akan langsung kami transfer ke rekening anda sebagai bentuk asuransi jiwa. Dan ibu tidak perlu membayar premi untuk itu (seketika terlintas dalam pikiran untuk bunuh diri, supaya dapat 25 juta). Tapi untuk saat ini kami tidak meng-cover untuk kematian yang disebabkan karena drugs, narkoba, dan korban bunuh diri (seketika ilang hasrat untuk bunuh diri).
Aku: oh gitu..
Sur: iya, walau kami berharap ibu dan keluarga akan selalu dalam keadaan sehat..
Aku: aamiin..
Sur: baik, untuk itu kami akan mencocokkan data ibu yang kami punya...(petugas asuransi mulai mencocokkan dataku, mulai dari nama, alamat, tanggal lahir, pekerjaan, dsb).
Setelah mencocokkan data, petugas itu mulai melanjutkan cuap-cuapnya.
Berikut percakapan yang terjadi via telefon antara aku dan petugas asuransi (sebut saja Sur).
tuuuut...............tuuuut.......
Aku: ya halo
Sur: selamat pagi, dengan ibu Anindia?
Aku: ya saya sendiri
Sur: maaf ibu kami dari asuransi Asal Mandi (nama samaran :D). Kali ini kami ingin menginformasikan bahwa ibu mendapatkan kesempatan mengikuti program asuransi secara gratis selama 2 bulan tanpa membayar premi, karena ibu merupakan nasabah Bank kami yang cukup aktif.
Aku: oh.. (nada sedikit kecewa, karena kukira mau dapet hadiah dari Bank) :|
Sur: iya, jadi terhitung dari hari ini, jika ibu atau ahli waris ibu mendapatkan musibah hingga meninggal dunia, maka ibu akan mendapatkan 25 juta yang akan langsung kami transfer ke rekening anda sebagai bentuk asuransi jiwa. Dan ibu tidak perlu membayar premi untuk itu (seketika terlintas dalam pikiran untuk bunuh diri, supaya dapat 25 juta). Tapi untuk saat ini kami tidak meng-cover untuk kematian yang disebabkan karena drugs, narkoba, dan korban bunuh diri (seketika ilang hasrat untuk bunuh diri).
Aku: oh gitu..
Sur: iya, walau kami berharap ibu dan keluarga akan selalu dalam keadaan sehat..
Aku: aamiin..
Sur: baik, untuk itu kami akan mencocokkan data ibu yang kami punya...(petugas asuransi mulai mencocokkan dataku, mulai dari nama, alamat, tanggal lahir, pekerjaan, dsb).
Setelah mencocokkan data, petugas itu mulai melanjutkan cuap-cuapnya.
Sur: Kami juga mempunyai program asuransi kesehatan selama 10 tahun, dimana ibu cukup membayar premi untuk 5 tahunnya saja.
Aku: ya...
Sur: jadi dengan membayar premi 5 tahun, ibu mendapatkan program asuransi kesehatan selama 10 tahun. Jadi jika usia ibu sekarang 25 tahun, maka ibu akan mendapatkan program asuransi hingga ibu berusia 35 tahun.
Aku: ya...
Si petugas asuransi terus menjelaskan program asuransinya tanpa jeda.
Dan aku hanya menjawab iya-iya saja, karena aku tidak terlalu tertarik dengan program yang dia tawarkan.
Sebenarnya aku sudah ditawari program asuransi oleh temanku yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi Rubensial (nama samaran juga), dan bulan depan temanku itu akan menjelaskan secara detail mengenai asuransi di sana.
Jadi aku tidak terlalu memperhatikan tawaran dari asuransi Asal Mandi ini.
Lalu, tiba-tiba setelah petugas asuransi itu selesai menjelaskan, dia berkata...
Sur: baik jadi persetujuan ibu untuk mengikuti program asuransi ini sudah kami rekam, dan rekaman ini akan menjadi bukti persetujuan.
Aku: (kaget) rekaman apa ya mas? persetujuan yang mana?
Sur: ya persetujuan bahwa ibu mau mengikuti program asuransi ini dan otomatis rekening anda akan kami debit tiap bulannya sebesar Rp 750.000,-
whattts???!!!
Aku: tunggu..tunggu..tunggu mas..sepertinya dari tadi tidak ada kata2 yang mengatakan bahwa saya mau ikut program itu!
Sur: nah kan dari tadi ibu bilang iya-iya gitu..
Aku: Saya bilang iya-iya karena mas-nya menjelaskan programnya...ya saya iya-iya aja...tapi kan mas-nya gak menanyakan apakah saya mau ikut atau tidak..kok tau-tau dikatakan saya telah menyetujui mengukuti programnya??? Bijimane ini...??? Jangan gitu dong mas...gila ajaa...sebulan rekening saya mau di auto-debit 750rebu (mulai ngomel-ngomel)
Sur: ini kan untuk ibu dan keluarga ibu juga...ibu kan tidak tau kalau sewaktu-waktu nyawa ibu dicabut...bisa besok, lusa, atau detik ini juga, kita tidak tahu..jadi dengan mengikuti program ini, ibu akan mendapatkan keuntungan
Aku: (asem ni petugas mulai doa'in yang engga2) iya saya tau mas, saya bisa meninggal kapan saja, Allah yang menentukan...tapi untuk saat ini, sayalah yang punya hak untuk menentukan apakah saya mau ikut program asuransi ini atau tidak. Dan saya tidak tertarik mas!
Sur: ini demi keluarga ibu juga bu..bla bla bla...
Aku: iya mas saya tau..
Sur: lalu apa yang membuat ibu merasa keberatan mengikuti program ini?
Aku: cara anda menawarkan dan tiba-tiba memutuskan bahwa saya setuju, itu yang membuat saya keberatan! lalu auto-debit 750.000/ bulan! Kebutuhan saya banyak mas...@#$%^& (mulai sewot)
Sur: rejeki kan kita tidak tahu bu...
Aku: nah! justru karena itu maaas! @#$%^& (mulai sewot lagi, karena petugasnya makin nyebelin)
Sur: jadi apa yang membuat ibu keberatan? premi per bulannya terlalu tinggi ya? Kalu begitu kami menawarkan premi ekonomis..dengan auto-debit per bulannya cukup Rp 350.000,- saja...jadi nanti ibu...
STOP!
Aku: (aku mencoba memotong kata-kata si petugas sebelum dia nyerocos lebih lanjut) sebentar mas! gini ya mas...ini bukan masalah berapa premi yang harus saya bayar...mau 350ribu, 100ribu, 50ribu, bahkan 10ribu per bulan pun saya tidak mau mas..karena saya tidak tertarik :)
ziiing.....(tiba-tiba kami berdua diam sejenak)
Sur: baik bu kalau begitu, terima kasih...selamat pagi.
tuut tuuut tuuuuut...
Aku terdiam memandangi hp ku (lebay)
Jadi itulah pengalamanku dengan petugas asuransi.
Menurutku cara penawaran melalui telefon seperti itu sangat merugikan.
Kita tidak mendapatkan kesempatan untuk mempelajari program asuransi yang ditawarkan.
Dan kadang tanpa disadari, seseorang bisa ter-auto debit tabungannya karena sudah dianggap menyetujui program asuransi tersebut.
Jadi buat teman-teman, kalau mendapati penawaran asuransi, penjualan, atau apapun itu via telefon, harus berhati-hati!
Asuransi jiwa itu penting dan bisa menguntungkan kita..tapi jika awalnya ditawarkan dengan cara yang demikian, bisa jadi sangat merugikan dan mengecewakan :)
Waspadalah! waspadalah! :D
Langganan:
Postingan (Atom)


