Berikut percakapan yang terjadi via telefon antara aku dan petugas asuransi (sebut saja Sur).
tuuuut...............tuuuut.......
Aku: ya halo
Sur: selamat pagi, dengan ibu Anindia?
Aku: ya saya sendiri
Sur: maaf ibu kami dari asuransi Asal Mandi (nama samaran :D). Kali ini kami ingin menginformasikan bahwa ibu mendapatkan kesempatan mengikuti program asuransi secara gratis selama 2 bulan tanpa membayar premi, karena ibu merupakan nasabah Bank kami yang cukup aktif.
Aku: oh.. (nada sedikit kecewa, karena kukira mau dapet hadiah dari Bank) :|
Sur: iya, jadi terhitung dari hari ini, jika ibu atau ahli waris ibu mendapatkan musibah hingga meninggal dunia, maka ibu akan mendapatkan 25 juta yang akan langsung kami transfer ke rekening anda sebagai bentuk asuransi jiwa. Dan ibu tidak perlu membayar premi untuk itu (seketika terlintas dalam pikiran untuk bunuh diri, supaya dapat 25 juta). Tapi untuk saat ini kami tidak meng-cover untuk kematian yang disebabkan karena drugs, narkoba, dan korban bunuh diri (seketika ilang hasrat untuk bunuh diri).
Aku: oh gitu..
Sur: iya, walau kami berharap ibu dan keluarga akan selalu dalam keadaan sehat..
Aku: aamiin..
Sur: baik, untuk itu kami akan mencocokkan data ibu yang kami punya...(petugas asuransi mulai mencocokkan dataku, mulai dari nama, alamat, tanggal lahir, pekerjaan, dsb).
Setelah mencocokkan data, petugas itu mulai melanjutkan cuap-cuapnya.
Sur: Kami juga mempunyai program asuransi kesehatan selama 10 tahun, dimana ibu cukup membayar premi untuk 5 tahunnya saja.
Aku: ya...
Sur: jadi dengan membayar premi 5 tahun, ibu mendapatkan program asuransi kesehatan selama 10 tahun. Jadi jika usia ibu sekarang 25 tahun, maka ibu akan mendapatkan program asuransi hingga ibu berusia 35 tahun.
Aku: ya...
Si petugas asuransi terus menjelaskan program asuransinya tanpa jeda.
Dan aku hanya menjawab iya-iya saja, karena aku tidak terlalu tertarik dengan program yang dia tawarkan.
Sebenarnya aku sudah ditawari program asuransi oleh temanku yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi Rubensial (nama samaran juga), dan bulan depan temanku itu akan menjelaskan secara detail mengenai asuransi di sana.
Jadi aku tidak terlalu memperhatikan tawaran dari asuransi Asal Mandi ini.
Lalu, tiba-tiba setelah petugas asuransi itu selesai menjelaskan, dia berkata...
Sur: baik jadi persetujuan ibu untuk mengikuti program asuransi ini sudah kami rekam, dan rekaman ini akan menjadi bukti persetujuan.
Aku: (kaget) rekaman apa ya mas? persetujuan yang mana?
Sur: ya persetujuan bahwa ibu mau mengikuti program asuransi ini dan otomatis rekening anda akan kami debit tiap bulannya sebesar Rp 750.000,-
whattts???!!!
Aku: tunggu..tunggu..tunggu mas..sepertinya dari tadi tidak ada kata2 yang mengatakan bahwa saya mau ikut program itu!
Sur: nah kan dari tadi ibu bilang iya-iya gitu..
Aku: Saya bilang iya-iya karena mas-nya menjelaskan programnya...ya saya iya-iya aja...tapi kan mas-nya gak menanyakan apakah saya mau ikut atau tidak..kok tau-tau dikatakan saya telah menyetujui mengukuti programnya??? Bijimane ini...??? Jangan gitu dong mas...gila ajaa...sebulan rekening saya mau di auto-debit 750rebu (mulai ngomel-ngomel)
Sur: ini kan untuk ibu dan keluarga ibu juga...ibu kan tidak tau kalau sewaktu-waktu nyawa ibu dicabut...bisa besok, lusa, atau detik ini juga, kita tidak tahu..jadi dengan mengikuti program ini, ibu akan mendapatkan keuntungan
Aku: (asem ni petugas mulai doa'in yang engga2) iya saya tau mas, saya bisa meninggal kapan saja, Allah yang menentukan...tapi untuk saat ini, sayalah yang punya hak untuk menentukan apakah saya mau ikut program asuransi ini atau tidak. Dan saya tidak tertarik mas!
Sur: ini demi keluarga ibu juga bu..bla bla bla...
Aku: iya mas saya tau..
Sur: lalu apa yang membuat ibu merasa keberatan mengikuti program ini?
Aku: cara anda menawarkan dan tiba-tiba memutuskan bahwa saya setuju, itu yang membuat saya keberatan! lalu auto-debit 750.000/ bulan! Kebutuhan saya banyak mas...@#$%^& (mulai sewot)
Sur: rejeki kan kita tidak tahu bu...
Aku: nah! justru karena itu maaas! @#$%^& (mulai sewot lagi, karena petugasnya makin nyebelin)
Sur: jadi apa yang membuat ibu keberatan? premi per bulannya terlalu tinggi ya? Kalu begitu kami menawarkan premi ekonomis..dengan auto-debit per bulannya cukup Rp 350.000,- saja...jadi nanti ibu...
STOP!
Aku: (aku mencoba memotong kata-kata si petugas sebelum dia nyerocos lebih lanjut) sebentar mas! gini ya mas...ini bukan masalah berapa premi yang harus saya bayar...mau 350ribu, 100ribu, 50ribu, bahkan 10ribu per bulan pun saya tidak mau mas..karena saya tidak tertarik :)
ziiing.....(tiba-tiba kami berdua diam sejenak)
Sur: baik bu kalau begitu, terima kasih...selamat pagi.
tuut tuuut tuuuuut...
Aku terdiam memandangi hp ku (lebay)
Jadi itulah pengalamanku dengan petugas asuransi.
Menurutku cara penawaran melalui telefon seperti itu sangat merugikan.
Kita tidak mendapatkan kesempatan untuk mempelajari program asuransi yang ditawarkan.
Dan kadang tanpa disadari, seseorang bisa ter-auto debit tabungannya karena sudah dianggap menyetujui program asuransi tersebut.
Jadi buat teman-teman, kalau mendapati penawaran asuransi, penjualan, atau apapun itu via telefon, harus berhati-hati!
Asuransi jiwa itu penting dan bisa menguntungkan kita..tapi jika awalnya ditawarkan dengan cara yang demikian, bisa jadi sangat merugikan dan mengecewakan :)
Waspadalah! waspadalah! :D


2 komentar:
dulu aku kerja di posisi Marketing Executive di ASA (samaran) gk gini2 amat =)) gilaa sampe segitunya tuh sales by phone =)) coba aku di situ pada saat dia telp=)) habis aku cecer :-" gaya HRD aku pakai :-"=)) hahahaha
iyah sekarang banyak asuransi di bawah naungan bank-bank besar yang menggunakan cara itu bar, via telfon. Nyebeliiiin banget :(( :((
Posting Komentar